top of page

Menemukan Asrul Sani di Antara Arsip dan Masa Kini

Sep 1
3 min read

Ada perasaan unik ketika berdiri di tengah ruangan yang dipenuhi benda-benda dari masa lalu. Bukan cuma karena melihat sesuatu yang sudah berumur puluhan tahun, tetapi karena tiba-tiba terasa seperti sedang mengintip kehidupan orang lain dari jarak yang sangat dekat. Begitu juga ketika saya datang ke Pameran Maestro Film Indonesia 2026: Asrul Sani di Taman Ismail Marzuki.

Awalnya, nama Asrul Sani mungkin terdengar seperti nama yang sering muncul di buku sejarah perfilman Indonesia. Nama besar dari generasi yang berbeda. Jauh dari keseharian saya yang akrab dengan film streaming, layar ponsel, dan rekomendasi algoritma. Tapi ternyata, melihat perjalanan Asrul Sani secara langsung membuat jarak itu terasa sedikit lebih pendek.



Yang menarik dari pameran ini bukan cuma arsip atau dokumentasi yang dipajang. Ada semacam usaha untuk menghidupkan kembali sebuah masa ketika film tidak sekadar dibuat untuk ditonton, tetapi juga menjadi cara untuk menyampaikan kegelisahan, gagasan, dan pandangan terhadap kehidupan. Di situ saya mulai berpikir, ternyata cara manusia bercerita tidak banyak berubah.

Kita masih membuat film karena ada sesuatu yang ingin disampaikan. Masih mencari cerita tentang manusia, hubungan, kehidupan sosial, dan berbagai hal yang kadang sulit dijelaskan dengan percakapan sehari-hari. Bedanya, sekarang kita punya lebih banyak kamera, platform, dan teknologi.



Masa lalu yang ternyata tidak sejauh itu 


Hal yang paling membuat saya berhenti cukup lama adalah kesadaran bahwa karya dari masa lalu ternyata tidak selalu terasa "lama". Mungkin kita memang hidup di zaman yang berbeda. Cara berpakaian berbeda, teknologi berbeda, bahkan cara menikmati film pun sudah berubah total. Tapi ketika berhadapan dengan karya seorang seniman, yang terasa justru sisi manusianya. Ada keresahan yang rasanya masih familiar. Ada pertanyaan yang ternyata masih kita bawa sampai sekarang. Dan dari situ, tema pameran ini---"Berkelana ke Masa Lampau, Terdampar ke Masa Kini"---jadi terasa masuk akal. Saya datang untuk melihat masa lalu, tetapi justru beberapa kali merasa sedang melihat masa sekarang.



Dari Asrul Sani ke kita


Mungkin itu juga alasan kenapa arsip penting. Arsip bukan cuma kumpulan benda lama yang disimpan supaya tidak hilang. Di dalamnya ada potongan-potongan kehidupan yang memungkinkan kita memahami dari mana sesuatu berasal. Dalam konteks film Indonesia, melihat perjalanan Asrul Sani membuat saya sadar bahwa dunia perfilman yang kita kenal hari ini tidak muncul begitu saja.

Ada orang-orang yang lebih dulu mencoba, bereksperimen, menulis, menyutradarai, dan mungkin juga berkali-kali gagal sebelum akhirnya meninggalkan sesuatu yang bisa kita lihat hari ini.

Dan sekarang, generasi kita yang menikmati hasil perjalanan panjang itu.

Agak lucu juga kalau dipikir-pikir. Kita sering merasa hidup di zaman paling modern, paling cepat, paling canggih. Padahal, mungkin orang-orang puluhan tahun lalu juga merasa mereka sedang berada di masa depan.



Pulang dengan isi kepala yang sedikit berbeda 


Setelah melihat pameran ini, saya jadi merasa bahwa melihat karya lama bukan berarti harus menjadi ahli sejarah atau penggemar film klasik. Kadang kita cuma perlu datang dengan rasa penasaran. Sisanya, biarkan arsip, film, dan cerita yang berbicara. Pameran Asrul Sani berlangsung pada 21--30 Agustus 2026, pukul 10.00--20.00 WIB, di Gedung Trisno Soemardjo, Taman Ismail Marzuki, Jakarta. 

Ada pameran arsip, pemutaran film, diskusi, dan dramatic reading. Dan mungkin, seperti saya, kita datang dengan niat sederhana: ingin tahu seperti apa masa lalu. Tapi ketika keluar, malah membawa pulang pertanyaan tentang masa kini. Karena ternyata, berkelana ke masa lampau tidak selalu membuat kita semakin jauh dari hari ini. Kadang justru sebaliknya. Kita jadi lebih sadar sedang berada di mana.



Artikel oleh: Valencio Mickelin



 
 
 

Comments


bottom of page